Kamu mungkin bisa menunda waktu, tapi waktu tidak akan bisa menunggu...Waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Tuesday, January 10, 2012

Mudamu sebelum Tuamu


Ada sebuah hadist rasullullah yang kira-kira bunyinya seperti ini:
Rasul S.A.W bersabda: ambillah lima perkara sebelum lima perkara. 1 masa mudamu sebelum masa tuamu, 2 masa sehatmu sebelum masa sakitmu, 3 masa kayamu sebelum masa miskinmu, 4 masa luangmu sebelum masa sempitmu, 5 masa hidupmu sebelum masa matimu.
Apa pendapat mu tentang hadist diatas? Aku kira banyak pendapat yang akan timbul jika membaca dan melihat hadist tersebut diatas. Tapi, berapa persenkah dari kita yang betul-betul menyadari bahwa itu akan terjadi. Dan kita semua konsisten dengan apa yang telah kita ketahui dari hadist di atas. Aku rasa tidak banyak yang bisa melakukan itu. Konsisten itu merupakan hal yang sangat sulit bagi mareka yang tidak punya komitment. Konsisten itu terlalu berat dan terasa seperti mengangkat batu ribuan ton jika kita tidak terbiasa dengan itu.

Friday, December 9, 2011

Cinta dan perkawinan


Alkisah, plato muda sedang berjalan-jalan dengan gurunya. Dalam perjalann tersebut plato bertanya pada gurunya.
“Guru, apa itu cinta?”
Sang guru berdiam sejenak dan memandang lekat kepada plato. “datanglah kamu ke kebun bunga, kemudian petiklah salah satu bunga yang paling cantik menurut kamu.”
“Akan tetapi ada satu syarat.”
“Apa itu guru?”
“kamu harus berjalan lurus tanpa boleh berbalik dan kembali.”
Plato pun ke kebun bunga dan mencari bunga yang menurutnya paling indah dan menarik di pandang mata. Namun apa yang terjadi. Plato tidak memetik bunga satupun, dan kembali kepada gurunya dengan tangan kosong.
“Mana bunga yang kamu petik?” tanya gurunya.
“Saya tidak memetik satu bungapun, karena saya menyangka bakalan ada yang lebih menarik lagi didepan. Ternyata tidak ada sehingga saya tidak memetik satupun dari bunga yang ada dikebun.”
“hmmm....., itulah cinta”.
“Apa makna dari itu semua guru?” tanya plato dengan rasa penasaran akan perkataan gurunya.
“kamu berjalan dikebun, itu perumpamaan dunia yang kamu tapaki”
“sekian banyak bunga merupakan perumpamaan banyaknya wanita yang sangat menarik dan indah, baik dari jumlah maupun kecantikan dan keunikan mareka.”

Sunday, September 11, 2011

journey


Pada malam yang buta, kami mulai melakukan perjalanan menuju kampung halaman. Ini mungkin hanyalah perjalanan biasa bagi sebagian orang. Namun tidak demikian halnya denganku. Tujuan kami memang sama, untuk menghadiri acara resepsi perkawinan kawan lama. kendaraan yang kita gunakanpun satu. Namun aku mengalami hal yang menurut aku lebih dari sekedar perjalanan biasa.
Dalam perjalanan tersebut salah seorang dari kami mengeluarkan semua isi perutnya alias muntah. Namun apa yang terjadi?! Pemilik mobil malah tidak menanyakan keadaan sikawan. Tapi malah marah dan mengomel selama dalam perjalan sampai ke rumah. Jangan kira dia berhenti mengomel sesampai di rumah. Keesokan harinya dia melakukan hal yang sama. Nampaknya dai sangat kesal karena mobil barunya itu kotor karena luapan perut kawannya. Aku heran, dia sama sekali tidak khawatir dengan keadaan kawannya, tapi malah mengkhawatirkan keadaan mobilnya yang bau dan kotor.
Aku sangat prihatin, bukan kepada kawan atau pemilik mobil itu. Tetapi prihatin terhadap kita semua. Kita semua yang telah hilang nilai kemanusiaannya. kita semua yang lebih mementingkan benda dari manusia. Kita semua yang beranggapan benda itu lebih berharga dari manusia. Kita telah hilang rasa kemanusiaan yang telah tertanam sejak kita atau bahkan sebelum kita dilahirkan.
Nilai kemanusiaan telah berganti dengan nilai kapitalisme. Nilai yang hanya memperhatikan barang dan lembaran rupiah ataupun dolar. Segala sesuatunya hanya berdasarkan materi. Manusia sudah tidak perduli lagi sesamanya kecuali ada imbalan yang didapatkannya. Tidak selanyaknya kita memperjuangkan dan mempertahankan nilai kapitalisme itu. Solidaritas itu lebih penting dari sebuah benda ataupun sejenisnya.
Lihat saja, tingkah kita sehari-hari. Hanya karena mobil kotor, kita marahnya luar biasa. Padahal mobil masih bisa dibersihkan. Namun hati manusia yang telah kita kotori belum tentu dapat kita bersihkan walau hanya dengan seribu kata maaf.
Dari pengalaman yang aku alami itu, mengisyaratkan telah merosotnya rasa kepedulian kita kepada sesama. Benda lebih berharga dari manusia. Kejadian ini hanya mewakili dari beribu kejadian yang telah terjadi di Aceh ini. Banyak perubahan yang telah terjadi di negeri ini.