Kamu mungkin bisa menunda waktu, tapi waktu tidak akan bisa menunggu...Waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.

Sunday, September 11, 2011

journey


Pada malam yang buta, kami mulai melakukan perjalanan menuju kampung halaman. Ini mungkin hanyalah perjalanan biasa bagi sebagian orang. Namun tidak demikian halnya denganku. Tujuan kami memang sama, untuk menghadiri acara resepsi perkawinan kawan lama. kendaraan yang kita gunakanpun satu. Namun aku mengalami hal yang menurut aku lebih dari sekedar perjalanan biasa.
Dalam perjalanan tersebut salah seorang dari kami mengeluarkan semua isi perutnya alias muntah. Namun apa yang terjadi?! Pemilik mobil malah tidak menanyakan keadaan sikawan. Tapi malah marah dan mengomel selama dalam perjalan sampai ke rumah. Jangan kira dia berhenti mengomel sesampai di rumah. Keesokan harinya dia melakukan hal yang sama. Nampaknya dai sangat kesal karena mobil barunya itu kotor karena luapan perut kawannya. Aku heran, dia sama sekali tidak khawatir dengan keadaan kawannya, tapi malah mengkhawatirkan keadaan mobilnya yang bau dan kotor.
Aku sangat prihatin, bukan kepada kawan atau pemilik mobil itu. Tetapi prihatin terhadap kita semua. Kita semua yang telah hilang nilai kemanusiaannya. kita semua yang lebih mementingkan benda dari manusia. Kita semua yang beranggapan benda itu lebih berharga dari manusia. Kita telah hilang rasa kemanusiaan yang telah tertanam sejak kita atau bahkan sebelum kita dilahirkan.
Nilai kemanusiaan telah berganti dengan nilai kapitalisme. Nilai yang hanya memperhatikan barang dan lembaran rupiah ataupun dolar. Segala sesuatunya hanya berdasarkan materi. Manusia sudah tidak perduli lagi sesamanya kecuali ada imbalan yang didapatkannya. Tidak selanyaknya kita memperjuangkan dan mempertahankan nilai kapitalisme itu. Solidaritas itu lebih penting dari sebuah benda ataupun sejenisnya.
Lihat saja, tingkah kita sehari-hari. Hanya karena mobil kotor, kita marahnya luar biasa. Padahal mobil masih bisa dibersihkan. Namun hati manusia yang telah kita kotori belum tentu dapat kita bersihkan walau hanya dengan seribu kata maaf.
Dari pengalaman yang aku alami itu, mengisyaratkan telah merosotnya rasa kepedulian kita kepada sesama. Benda lebih berharga dari manusia. Kejadian ini hanya mewakili dari beribu kejadian yang telah terjadi di Aceh ini. Banyak perubahan yang telah terjadi di negeri ini.  

No comments:

Post a Comment