Kamu mungkin bisa menunda waktu, tapi waktu tidak akan bisa menunggu...Waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.

Thursday, July 3, 2014

Perspektif


“Perspektif, ada banyak sisi… bisa dipilih, tentu saja yang baik buat kamu…”
Perspektif dalam kamus besar bahasa indonesia dapat diartikan sebagai cara melukiskan suatu benda pada permukaan yang mendatar sebagaimana yang terlihat oleh mata dengan tiga dimensi (panjang, lebar dan tinggi); perspektif juga dapat diartikan sebagai pandangan atau sudut pandang.[1] Jadi sangat bergantung kepada pengetahuan dari orang yang memberikan pandangan atau pendapat. Refleksi dari yang dikatakan seseorang itu berdasarkan pengetahuannya akan apa yang dibicarakan atau diutarakan. Tidak semua pandangan orang lain itu cocok atau sesuai dengan keadaan kita. Kita hanya perlu memilah dan memilih mana pendapat atau pandangan yang cocok dengan kita.
Jadi, Ada satu kisah yang sering kali diulang dan hampir setiap waktu jika bercerita tentang sifat manusia dalam melihat realitas yang ada didepan mareka. Kisah ini merupakan kisah yang paling sering diutarakan dan mungkin hampir semua orang tau kisah ini. Ini merupakan kisah seorang yang sangat bijak, sangking bijaknya hingga Allah pun menyebutkan namanya di dalam Al-qur,an. Nama orang bijak tersebut adalah Lukmanul Hakim. Si orang bijak yang selalu mengingatkan anaknya akan Allah, dan selalu memberikan nasehat yang penuh makna kepada anaknya.
Ada kisah dimana sang bijak, yaitu lukman al-hakim pergi ke pasar bersama anaknya. Sang bijak dan anaknya hendak menjual keledai untuk kebutuhan sehari-hari. Maka pergilah mareka menuju ke pasar pada pagi harinya. Mareka berangkat dengan menaiki keledai yang hendak dijual. Keduanya sampai pada satu desa yang penduduknya sedang duduk bergurau didepan rumahnya. Lukman dan anaknya melewati penduduk desa tersebut dan tersenyum kepada mareka. Begitu lukman dan anaknya melewati mareka, ada di antara penduduk yang berkata; apa mareka sudah gila dan tidak berfikir, keledai yang kecil dinaiki berdua. Sungguh mareka sudah mendapati keledainya mati nantinya karena menanggung beban yang berat. Mendengar perkataan yang demikian lukman pun turun dan membiarkan anaknya yang menunggangi keledai. Lukman pun melanjutkan perjalanan ke pasar.
Selama perjalanan lukman kembali bertemu dengan satu kaum yang sedang beristirahat, sepertinya kaum tersebut sedang melakukan perjalanan yang jauh. Lukman melewati mareka dengan tersenyum ramah dan marekapun membalas senyum lukman dengan ramah. Hal yang sama terjadi, ketika lukman melewati mareka; lukman mendengar perkataan kaum tersebut terhadap dia dan anaknya. Kaum tersebut berkata; Sungguh anak yang tidak tahu diri dan tidak beradab, anak durhaka, dia menyuruh ayahnya (lukman) berjalan kaki sedangkan dia dengan enaknya duduk diatas keledai. Mendengar hal itu lukman menyuruh anaknya turun dan lukman menaiki keledai tersebut.
Lukman dan anaknya kembali melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan mareka kembali bertemu dengan sekelompok kabilah yang juga sedang beristirahat. Seperti biasa, lukman tersenyum kepada mareka dan mareka melakukan hal yang sama. Disitu lukman kembali mendengar perkataan yang tidak mengenakkan. Salah seorang dari kabilah tersebut berkata; sungguh bapak yang tidak beradab, bapak yang tidak menyayangi anaknya, dia membiarkan anaknya berjalan kaki sedangkan dia menunggangi keledainya. Mendengar perkataan yang demikian, lukman turun dari keledai.
Keduanya kemudian berjalan kaki dengan membiarkan keledai tanpa dinaiki. Dan mungkin ada banyak perkataan orang yang akan timbul dengan sikap lukman yang tidak menaiki keledainya. Ataupun orang akan memandang lukman lebih gila lagi jika lukman malah mengangkat keledainya bukan menungganginya.
Ya begitulah, sudut pandang seseorang terhadap kita dan bisa jadi sudut pandang kita terhadap orang lain juga begitu. Ada beberapa adagium lainnya yang berkaitan seperti “jangan menilai buku dari sampulnya”. Artinya kita perlu membaca buku itu dulu baru boleh menilai buku tersebut. Kaitannya dengan cerita ini, jika seseorang tidak tahu keadaan orang lain atau bahkan belum mengenal orang tersebut, sepantasnya kita tidak membicarakan atau menilai orang tersebut jelek, gak bagus perangainya de el el,,, sebaik kita berkenalan dulu, komunikasi de el el… karena gak ada orang yang mau dinilai oleh orang yang sama sekali tidak tahu duduk permasalahannya. Artinya jangan menilai orang lain jika karena orang tersebut tidak seperti yang kita pikirkan. Dan kita, juga berharap orang lain tidak menilai kita sebagaimana yang dia pikirkan. That’s it…  super sekali… J.


1 comment: