Kamu mungkin bisa menunda waktu, tapi waktu tidak akan bisa menunggu...Waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.

Wednesday, November 16, 2011

Peran Bimbingan Orang Tua dalam Proses Pendidikan Agama Anak


Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, maka dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian, bentuk pertama dari pendidkan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Pada umumnya pendidikan dalam keluarga itu bukan berpangkal dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan, situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
Orang tua turut berperan dalam pembentukan nilai terutama dengan uraian dan keterangan mengenai keyakinan dalam agama yang dianutnya. Orang tua dapat membantu anak dengan mengemukakan peranan agama dalam kehidupan masa dewasa, sehingga penyadaran ini dapat memberi arti yang baru pada keyakinan agama yang telah diperolehnya. Selain itu orang tua juga memegang peranan penting dan amat berperangaruh atas pendidikan anak-anaknya, sejak anak lahir, ibunya selalu ada disampinganya. Bahkan sejak dalam kandunganpun pendidikan harus mulai diberikan orang tua, yaitu melalui metode pengikutsertaaan ketika mau berwudhu, shalat, membaca al’quran, hendaknya orang tua selalu mendampinginya.[1]

Pendidikan agama islam itu merupakan pendidikan yang sangat penting sekali, sehingga orang tua harus mampu mengarahkan pendidikan nya di bidang keagamaan. Seorang anak sejak dini harus mampu membaca Al-Quran, melakukan salat, puasa dan sebagainya semua itu tergantung kepada orang tua dalam mengarahkan dan membimbingnya. Sebagaimana dalam hadist:

عن ابى هريرةرض الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : كل مولد يولد على الفطرة  فأ بواه يهو دانه اوينصر نه اويمجسا نه.  (رواه البخارى)
Artinya : Dari Abu Hurairah r.a berkata : Bersabda Rasulullah Saw setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah maka kedua orang tua nya lah yang akan menjadikan ia sebagai yahudi, nasrani atau majusi.(H. R. Bukhari ).[2]
Dari hadist diatas jelas bahwa apabila orang tua mengajarkan dan membimbing anak dengan prinsip-prinsip iman dan islam maka anak akan tumbuh dan berkembang dalam akidah dan islam, begitu juga sebaliknya, apabila orang tua tidak menanamkan prinsip-prinsip keagaman pada diri anak, maka nantinya ia akan tumbuh dengan mengikuti arah hidup yang berlaku dilingkungan sekitarnya. Dengan sendirinya anak akan mudah terpengaruh dan terjerumus kedalam hal-hal yang akan menyesatkannya, yang bisa berdampak negatif bagi kehidupan dan masa depannya.    
Demikian pula islam memerintahkan agar para orang tua berlaku sebagai kepala dan pimpinan dalam keluarganya serta berkewajiban untuk memelihara keluarganya dari api neraka, sebagai mana firman Allah S.W.T
يأيهاالذين امنواقواأنفسكم واهليكم ناراوقودهاالناس والحجارةعليهاملا ئكة غلاظ شدادلايعصون الله مآأمرهم ويفعلون مايؤمرون (التحريم : ٦)
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, perihalah dirimu dan keluarga mu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar, yang keras,  yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (Q.S Al-Tahrim :6)[3]  
Selain berperan sebagai pendidik, orang tua juga memegang peranan lain yang perlu disadari dan dibina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain sebagai berikut :
1.     Memelihara dan membesarkanya. Dengan memberikan makanan, minuman, perawatan, agar ia dapat hidup secara berkelanjutan
2.     Melindungi dan menjamin kesehatanya, baik secara jasmaniah dan rohaniah, dari berbagai ganguan penyakit atau bahaya lingkuangan yang dapat membahayakan dirinya
3.     Mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi hidupnya, sehingga apabila telah dewasa, ia mampu berdiri sendiri sendiri dan membantu orang lain.
4.     Membahagikan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberikan pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah sebagai tujuan akhir hidup muslim.[4]

Lain hal nya dengan pendapat yang dikemukan Ramayulis, ia berpendapat bahwa:
Ruang lingkup tanggung jawab pendidikan islam yang meliputi pendidikan tentang kehidupan dunia dan akhirat sangat luas, maka orang tua tidak dapat memikul sendiri tanggung jawab pendidikan anaknya secara senpurna lebih-lebih dalam kehidupan masyarakat yang senantiasa berkembang  dengan maju.orang tua memiliki keterbatasan dalam memdidik anak mereka, makanya tugas dan tanggung jawab pendidikan anak diamanahkan kepada pendidik lainnya yang berada disekolah dan lingkungan masyarakat.[5]

Dari beberapa peran orang tua yang disebutkan di atas jelaslah bahwa orang tua bertanggung jawab untuk membimbing anaknya, selain sebagai pembimbing orang tua juga bertanggung jawab dalam mewujudkan anak-anak yang memiliki potensi hidup beragama yang kuat, agar nantinya ia bisa mengenal dirinya, penciptaanya, orang tua nya. Dengan demikian dalam diri anak akan timbul rasa taat dan patuh serta dan berlaku hormat pada orang tua nya, bahkan akan tidak berani membantah apalagi membentak hingga menyakitinya, karena kita ketahui bahwa hal yang demikian sangat dilarang dalam islam dan harus kita hindari. Hal demikian difirmankan oleh Allah dalam surat Al-isra : 23-24      
وقضى ربك ألا تعبدوا إلاإياه وبالوالدين إحسانا إما يبلغن عندك الكبرأحدهمآ أوكلاهما فلا تقل لهمآ أف ولاتنهرهما وقل لهما قولا كريما (٢٣) واخفض لهما جناح الذل من الرحمة وقل رب ارحمهما كما ربيانى صغيرا(٢٤)
Artinya : 23. Dan tuhan mu telah memerintahkan  kamu supaya jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya, jika ialah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepadakepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
                24. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah wahai tuhan ku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka mendidik aku waktu kecil‘(Q.S. al, isra, :23-24)[6]

Setiap orang tua tentunya memgharapkan anak-anaknya mendapatkan pendidikan agama yang cukup agar terwujud pada diri anak pribadi yang betaqwa kepada Allah, taat kepada kedua orang tua nya. Untuk itu peran orang tua sangat penting dalam memberikan pendidikan agama bagi anak dalam keluarga.



[1] Ibid, hal. 62.
[2] Abu Abdullah bin Muhammad Ismail Al Bukhari, Sahih Bukhari, (Jakarta: Toha Putra, tt), hal. 47. 


[3] Soenarjo, Alqur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Depag RI, 1999), hal. 951.
[4] Aat Syafaat, et, al.,Peranan Pendidikan…, hal. 64 

[5] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), hal. 64.  
[6] Soenarjo, Al-Qur’an dan…, hal. 428.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment