Kamu mungkin bisa menunda waktu, tapi waktu tidak akan bisa menunggu...Waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.

Tuesday, December 20, 2011

Kamu adalah apa yang kamu pikirkan


“Kamu adalah apa yang kamu pikirkan”
Itu kata orang-orang sukses. Iya, ataupun tidak. Aku rasa kalian semua punya pilihan. Tapi aku lebih memilih percaya akan perkataan itu. Bagaimana tidak, setiap kali kita mengatakan pada diri  kita bahwa kita adalah pecundang, maka kita akan tetap merasakan bahwa diri kita itu pecundang. Jadilah kita pecundang untuk selamanya.
Ada dua rumus yang berlaku dan terdapat di dalam diri kita sebagai manusia. Rumus logika dan rumus spontanitas atau alam bawah sadar yang timbul dan bergerak ketika kita tidak mempu lagi menggunakan logika atau alam sadar kita.
Dari situ, kita dapat melihat bahwa setiap perkataan adalah doa. Dan itu benar, setiap perkataan kita adalah doa buat diri kita. Setiap perkataan kita adalah perintah yang tersimpan di alam bawah sadar kita. Setiap perkataan kita adalah manifestasi dari pemikiran kita terhadap diri kita. Masih belum nyambung?!
Jadi gini, rumusan dasarnya adalah kita adalah apa yang kita pikirkan. Misalkan saja kita berpikir bahwa kita ini adalah manusia yang tidak bisa bermain bola, atau katakanlah kita tidak bisa matematika, ataupun kita tidak mampu dalam hal biologi. Maka pemikiran kita itu telah membatasi ruang gerak kita. Telah membatasi alam bawah sadar kita. Telah terukir dengan rapi di alam bawah sadar kita bahwa kita tidak bisa, tidak bisa dan tidak bisa. Maka jadilah kita tidak bisa.

Kemudian, rumusan yang kedua adalah alam bawah sadar kita itu lebih dominan dalam bermain pada diri kita dari pada logika kita atau alam sadar kita. Kenapa demikian, karena dalam kehidupan sehari-haripun kita berbuat demikian. Pernah berpikir bagaimana kita berjalan. Oh aku kalo berjalan tuh harus gini, jangan liat kiri kanan, liat kedepan aja. Kita sudah berjalan tanpa berpikir. Yang kita pikirkan Cuma tujuan kita, kita mau kemana, oh kesitu, kita pergi aja kesitu. Sampe mikir gak kita meski jalan gimana kalo mau kesitu, atau apalah. Tidak kan?! Kita tidak juga pernah berpikir bagaimana kita makan dan menguyah makanan ketika kita berbicara dan sambil melakukan aktifitas lain segala macam. Tapi aktivitas berjalan, aktivitas makan tetap berjalan tanpa perlu  kita fikirkan.
Ah... itukan karena kita terbiasa melakukannya. Jadi gak perlu mikir gimana harus berjalan, dari kecil juga kita udah jalan. Dari kecil kita juga udah makan, masak sgede ini masih mikir juga buat hal-hal yang demikian. Nah, itu tahu karena kebiasaan. Maka dari itu, karena kebiasaan kita bilang tidak bisa, tidak bisa dan tidak bisa, jadilah kita tidak bisa. Coba kalo bilangnya bisa, bisa dan bisa. Kita pasti bisa. Kenapa tidak tidak?! Ya kan?!
Toh dari kecil kita juga belajar buat jalan. Toh dari kecil kita juga belajar buat makan. Toh dari kecil kita juga belajar buat berbicara. Artinya apa? Segala sesuatu yang kita biasakan, itu akan terpatri di dalam diri kita sehingga kita akan menjadi apa yang telah kita biasakan. Sehingga kita tidak harus berfikir untuk itu, spontanitas yang bekerja, alam bawah sadar kita yang bekerja.
Jadi, Jika kita membiasakan diri dengan hal-hal yang positif, maka hasilnya tentu saja positif. Iya kan?! Nah, sebaliknya. Jika kita selalu berfikir negatif, tentu saja hasilnya negatif. Pengen dapat buah yang bagus, seharusnya kita memupuk dia, menjaga dan merawat dia, dengan hal-hal yang bagus. Ini nggak, maunya buah bagus, tapi tak pernah di pupuk, tak pernah dirawat, tak pernah dijaga. Ya gak dapat hasilnya.
Artinya apa, untuk mendapatkan hasil yang bagus tidak cukup hanya dengan pemikiran. Seperti misalnya kita pasti bisa matematika, kita pasti bisa biologi, kita pasti bisa bermain bola. Itu bagus pemikiran yang positif. Teus kita pupuk, terus kita tanamkan di dalam diri kita bahwa kita bisa itu semua. Tapi percuma jugakan jika kita tidak membiasakan diri untuk bisa matematika, membiasakan diri untuk bisa bilogi, membiasakan diri untuk bisa bermain bola. Maka itu semua harus dibarengi juga dengan pembiasaan dan harus dibarengi juga dengan komitmen kita terhadap sesuatu yang kita pikirkan.
Kenapa demikian, kita tidak idup sendiri. Ada aja godaan yang datang ketika kita membiasakan diri untuk hal-hal yang bagus, yang positif. Seperti godaan yang datang dari kawan, ngajak kita main ketika kita lagi serius belajar matematika atau biologi ataupun bola. Ngajak ngopi kita ketika kita lagi serius dengan hal-hal yang bagus buat kita. Lingkungan itu berpengaruh besar bagi kita. Namun pengaruh yang paling besar itu datang dari diri kita sendiri. Bukan dari orang lain. maka perlu adanya komitmen kita dalam hal ini.
So, tanamkan bahwa kita bisa maka kita bisa. Ucapkan pada diri kita bahwa kita bisa, Yakinkan diri kita bahwa kita bisa dan berbuatlah sesuai dengan apa yang kita yakinkan. Dan kita harus komit dengan itu semua. Terlalu sulit pada langkah yang pertama. Semua kita juga begitu kan?! Tapi ingatlah, dulu kita berlajar untuk merangkak, lambat laun kita bisa berjalan dan kemudian kita bisa berlari. Dan ingat lagi, jarak yang di tempuh dengan ribuan milpun, itu berawal dari satu langkah pertama. Nah sekarang, apa pilihan mu?



Banda Aceh, 20 Desember 2011.

1 comment:

  1. Setuju, bang.banyak nsekarang orang merasakan "Galau" dalam hidup. Itu karna mereka kurang yakin dengan apa yang dipikirkanya,
    http://fireworkdeni.blogspot.com/

    ReplyDelete